Category Archives: Tradisi

Bangunan Keraton Kasultanan Yogyakarta

01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg Pagelaran adalah halaman paling depan yang berhubungan langsung dengan Alun-alun Lor. Bagian utamanya adalah Bangsal Pagelaran, yang dahulu bernama Tratag Rambat. Nama Pagelaran baru diperkenalkan setelah pemugaran pada tahun 1921, pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Bangsal ini dipergunakan sebagai salah satu tempat pelaksanaan Upacara Garebeg yang diselenggarakan 3 kali dalam 1 tahun. Antara tahun 1946 hingga 1973, bangsal ini pernah dipergunakan sebagai tempat kuliah pada masa-masa awal berdirinya Universitas Gadjah Mada.  

Continue reading

Profil Prajurit Keraton [1]

Oleh: Agus Yuniarso

 20_profil_prajurit.jpg

Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang disebut bregada. Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang bertugas untuk mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji. Sementara regu-regu dalam setiap bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Keseluruhan perwira dalam semua bregada dipimpin oleh seorang Pandega. Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton adalah seorang Manggalayudha. Continue reading

Profil Prajurit Keraton [2]

Oleh: Agus Yuniarso

 21_profil_prajurit.jpg

Yang tampil pada urutan berikutnya adalah Bregada Prajurit Mantrijero. Pada jamannya, Bregada Prajurit Mantrijero beranggotakan menteri-menteri di Keraton yang bertugas sebagai hakim yang memutuskan perkara. Tugasnya sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Prajurit Mantrijero berseragam sikepan dan celana panji dengan corak lurik khas Mantrijero, sepatu model pantopel berwarna hitam dengan kaos kaki warna putih, serta topi berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Purnamasidi, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Cokro. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, dan terompet yang mengumandangkan lagu Plangkeman, Slagunder dan Mars Stok. Bregada Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata ” Joyo, Bahu, Prawiro atau Rono “. Continue reading

Gunungan Ciri Khas Upacara Garebeg

Upacara Garebeg di Kasultanan Yogyakarta diselenggarakan 3 kali dalam satu tahun pada bulan Syawal, bulan Besar dan bulan Maulud dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan hari-hari besar Islam. Upacara Garebeg Maulud yang diselenggarakan setiap tanggal 12 bulan Maulud – yang bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awal dalam penanggalan Islam, merupakan puncak perayaan Sekaten yang diselenggarakan di Keraton Kasultanan Yogyakarta untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ciri khas upacara Gerebeg ditandai dengan ditampilkannya hajad dalem atau sedekah berupa sesajian berbentuk tumpeng besar yang terbuat dari aneka bahan makanan, seperti beras ketan, telur, bebuahan serta sayur-sayuran. Karena bentuknya yang menyerupai gunung, sesajian ini kemudian diberi nama Gunungan, yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan Kasultanan dan rakyat Yogyakarta.  Continue reading