<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Khas Djogdja</title>
	<atom:link href="http://khasdjogdja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://khasdjogdja.wordpress.com</link>
	<description>Untold Stories of Jogja by Galeri Video Foundation</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Oct 2007 06:13:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='khasdjogdja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/840fa11d8b7e3bfe2f4dc67e6454ee51?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Khas Djogdja</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Keraton Kasultanan Yogyakarta</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/keraton-kasultanan-yogyakarta/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/keraton-kasultanan-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 06:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/keraton-kasultanan-yogyakarta/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Keraton Kasultanan Yogyakarta didirikan pada tahun 1756 Masehi oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bertahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pendirian Keraton yang sekaligus menandai berdirinya Kota Yogyakarta ini, diabadikan dengan ornamen simbolik berupa candrasengkala berbunyi &#8220;Dwi Naga Rasa Tunggal&#8221;, yang bermakna angka tahun 1682 Jawa. Ornamen berupa 2 ekor naga yang saling berlilitan ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=23&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2"><a href="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_10.jpg" title="01_monumen_dua_setengah_abad_10.jpg"></a><a href="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_09.jpg" title="01_monumen_dua_setengah_abad_09.jpg"><img src="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_09.jpg" alt="01_monumen_dua_setengah_abad_09.jpg" /></a> </font></p>
<p><font size="2">Keraton Kasultanan Yogyakarta didirikan pada tahun 1756 Masehi oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bertahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pendirian Keraton yang sekaligus menandai berdirinya Kota Yogyakarta ini, diabadikan dengan ornamen simbolik berupa candrasengkala berbunyi &#8220;Dwi Naga Rasa Tunggal&#8221;, yang bermakna angka tahun 1682 Jawa. Ornamen berupa 2 ekor naga yang saling berlilitan ini, terdapat di pintu gerbang atau Regol Kemagangan dan Regol Gadhung Mlati yang berada di dalam Keraton Kasultanan Yogyakarta. <span id="more-23"></span></font></p>
<p><font size="2">Sri Sultan Hamengku Buwono I dikenal sebagai arsitek yang banyak membangun karya arsitektur megah. Selain Keraton Kasultanan, Sultan juga membangun Pesanggrahan Tamansari, Benteng Vredeburg serta Tugu Pal Putih yang menjadi simbol Kota Yogyakarta. Bahkan, bangunan Keraton Kasunanan Surakarta pun merupakan karya arsitektur hasil rancangannya. Karya terbesar Sultan adalah <em>landscape</em> Kota Yogyakarta yang berorientasi pada poros magis Pantai Selatan, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih dan Gunung Merapi. dan berada diantara aliran 2 sungai, Sungai Code dan Sungai Winongo. Konon, kedua sungai ini sempat dibelokkan arahnya untuk memberikan ruang yang memadai untuk pembangunan Keraton berikut bentengnya. Letak Keraton secara geografis digambarkan dalam sebuah tembang Mijil :</p>
<p><em>Kali Nanga pancingkok ing puri,</em><em>Gunung Gamping kulon,</em><em>Hardi Mrapi ler wetan prenahe,</p>
<p>Candi Jonggrang mangungkang ing kali,</p>
<p>Palered Magiri, Girilaya Kidul.</p>
<p>Kota-kota kerajaan di Jawa pada umumnya memiliki empat komponen utama, yang dikenal sebagai konsep Catur Gatra Tunggal atau empat komponen dalam satu kesatuan. Komponen-komponen itu adalah Keraton, Masjid, Alun-alun dan Pasar. Di Yogyakarta, semua komponen itu masih terpelihara lestari dan menjadi bagian aktifitas kehidupan warganya.</p>
<p>Pasar Beringharjo yang terletak di sebelah utara Keraton, sampai hari ini masih menjadi pasar terbesar di Kota Jogja, sehingga sering disebut Pasar Gedhe. Keramaian pasar ini tampaknya tidak banyak berubah sejak dua setengah abad yang lalu. Alun-alun, baik yang di utara maupun di belakang Keraton juga masih sebagaimana adanya semula, lengkap dengan 2 Pohon Beringin di tengahnya. keduanya masih utuh, meski lingkungan sekelilingnya telah berubah mengikuti perubahan wajah jaman. Bahkan luas keduanya tidak berkurang barang sejengkal pun juga. Begitu pula dengan Masjid Keraton atau Masjid Gedhe yang berada di sebelah barat Alun-alun Utara. Masjid Gedhe dan Alun-alun, masih tetap menjadi tempat diselenggarakannya upacara adat Garebeg yang telah diselenggarakan sejak jaman Sultan Hamengku Buwono I.</p>
<p></em>Sebagai situs pusaka budaya, Keraton Kasultanan Yogyakarta masih mempertahankan dan melestarikan sebagian besar bentuk dan fungsi bangunannya. Menelusuri halaman-halaman Keraton dengan mengenali berbagai bentuk dan fungsi bangunannya, adalah salah satu cara untuk memahami sebuah tradisi budaya, yang sudah berlangsung selama dua setengah abad lamanya.</p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=23&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/keraton-kasultanan-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_09.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">01_monumen_dua_setengah_abad_09.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangunan Keraton Kasultanan Yogyakarta</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/bangunan-keraton-kasultanan-yogyakarta/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/bangunan-keraton-kasultanan-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 06:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/bangunan-keraton-kasultanan-yogyakarta/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Pagelaran adalah halaman paling depan yang berhubungan langsung dengan Alun-alun Lor. Bagian utamanya adalah Bangsal Pagelaran, yang dahulu bernama Tratag Rambat. Nama Pagelaran baru diperkenalkan setelah pemugaran pada tahun 1921, pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Bangsal ini dipergunakan sebagai salah satu tempat pelaksanaan Upacara Garebeg yang diselenggarakan 3 kali dalam 1 tahun. Antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=21&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2"><a href="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg" title="01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg"><img src="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg" alt="01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg" /></a> </p>
<p>Pagelaran adalah halaman paling depan yang berhubungan langsung dengan Alun-alun Lor. Bagian utamanya adalah Bangsal Pagelaran, yang dahulu bernama Tratag Rambat. Nama Pagelaran baru diperkenalkan setelah pemugaran pada tahun 1921, pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Bangsal ini dipergunakan sebagai salah satu tempat pelaksanaan Upacara Garebeg yang diselenggarakan 3 kali dalam 1 tahun. Antara tahun 1946 hingga 1973, bangsal ini pernah dipergunakan sebagai tempat kuliah pada masa-masa awal berdirinya Universitas Gadjah Mada.   <span id="more-21"></span></p>
<p>Sepasang Bangsal Pemandengan yang terletak di kanan kiri bangsal utama, dahulu dipergunakan sebagai tempat duduk Sultan beserta panglima perang kerajaan, saat menyaksikan latihan perang-perangan di Alun-alun Lor. Bangsal Pengapit atau Bangsal Pasewakan yang juga berjumlah sepasang, adalah tempat pertemuan bagi para panglima Kasultanan, serta menjadi tempat menunggu perintah atau dhawuh dari Sultan. Bangsal Pengrawit yang terletak di sisi kanan dalam Bangsal Pagelaran, oleh Sultan dipergunakan sebagai tempat pelantikan para Patih. Sisi selatan halaman ini dihiasi 2 lajur tembok berisi relief perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.</p>
<p>Sepasang Bangsal Pacikeran berada di bagian selatan, dahulu menjadi tempat jaga bagi para abdi dalem Singanegara dan algojo Keraton yang disebut abdi dalem Mertolulut. Abdi dalem ini bertugas untuk memberikan hukuman bagi tahanan Keraton, yang pelaksanaannya dilakukan di Alun-alun Lor.</p>
<p>Setelah menaiki tangga di sebelah selatan Pagelaran, kita memasuki halaman Sitihinggil sebelah utara atau Sitihinggil Lor. Bangsal Sitihinggil adalah bangunan utamanya, yang dipergunakan sebagai tempat penobatan para raja Keraton Kasultanan Yogyakarta, sekaligus menjadi tempat diselenggarakannya upacara Pisowanan Agung. Pada tanggal 17 Desember 1949, bangsal ini dipergunakan sebagai tempat pelantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat. Dua hari kemudian pada tanggal 19 Desember 1949, di bangsal ini juga diselenggarakan peresmian Universitas Gadjah Mada sebagai perguruan tinggi nasional pertama di Indonesia.</p>
<p>Di bagian tengah Bangsal Sitihinggil berdiri sebuah bangunan bernama Bangsal Manguntur Tangkil. Di tengah bangsal ini terdapat batu persegi atau Selo Gilang yang dipergunakan untuk meletakkan singgasana Sultan ketika berlangsung upacara penobatan serta pada waktu digelarnya Pisowanan Agung. Di belakang Bangsal Manguntur Tangkil, berdiri Bangsal Witono yang menjadi tempat pusaka utama Keraton pada saat dilangsungkannya penobatan raja serta pada waktu upacara Garebeg Mulud pada Tahun Dal.</p>
<p>Di sisi timur halaman Sitihinggil terdapat bangunan bernama Balebang yang dipergunakan untuk menyimpan gamelan pusaka Sekaten, Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga. Sementara di sisi barat halaman ini berdiri Bale Angun-angun dimana tersimpan pusaka Keraton berwujud tombak bernama Kanjeng Kyai Sura Angun-angun. Tarub Agung adalah bangunan di depan Bangsal Sitihinggil yang menjadi ruang tunggu bagi para tamu Sultan yang akan menghadiri upacara resmi di Bangsal Sitihinggil atau sebelum mereka diterima oleh Sultan. Sepasang Bangsal Kori berada di kanan kiri Tarub Agung, berfungsi sebagai tempat jaga bagi para abdi dalem Kori dan abdi dalem Jaksa yang bertugas menyampaikan permohonan maupun pengaduan rakyat kepada Sultan.</p>
<p>Regol Brojonolo adalah pintu gerbang yang menghubungan halaman Sitihinggil Lor dengan Halaman Kemandungan Lor di sebelah selatannya. Halaman Kemandungan Lor juga sering disebut halaman Keben, karena didalamnya terdapat sejumlah Pohon Keben, salah satu tanaman langka yang pada tahun 1986 dinyatakan sebagai lambang perdamaian oleh Pemerintah Republik Indonesia. Bangunan utama halaman ini adalah Bangsal Ponconiti yang dahulu berfungsi sebagai ruang sidang pengadilan di lingkungan Keraton. Di tengah bangsal ini juga terdapat Selo Gilang yang dipergunakan sebagai tempat singgasana Sultan.</p>
<p>Regol Sri Manganti adalah pintu gerbang yang menghubungkan halaman Keben dengan halaman Bangsal Srimanganti. Bangunan utama halaman ini adalah Bangsal Srimanganti di sisi barat, yang dipergunakan sebagai tempat Sultan menyambut kedatangan tamu-tamu penting. Sementara di sisi sebelah timur dahulu berdiri Bangsal Trajumas yang menjadi tempat bagi para pejabat Keraton pendamping Sultan pada saat menyambut kedatangan tamu-tamu penting. Pada saat gempa bumi melanda Kota Yogyakarta pada bulan Mei tahun 2006, Bangsal Trajumas mengalami kerusakan yang cukup parah, sehingga harus diratakan dengan tanah.</p>
<p>Pada sisi selatan berdiri Regol Donopratopo yang menjadi gerbang masuk menuju Bangsa Kencono. Di sisi kiri kanan regol ini, berdiri sepasang arca raksasa Dwarapala. Arca di sebelah timur bernama Cingkarabala, sementara yang berada di sebelah barat bernama Balaupata.</p>
<p>Bangunan-bangunan utama Keraton Kasultanan Yogyakarta terletak di seputar Bangsal Kencono. Bangsal yang menghadap ke timur ini sehari-hari berfungsi sebagai tempat singgasana Sultan serta tempat digelarnya berbagai upacara penting di lingkungan Keraton. Bangsal Prabayeksa yang disebut juga sebagai Gedhong Pusaka, terletak di belakang Bangsal Kencono. Bangsal ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai senjata pusaka Keraton. Di dalam bangsal ini terdapat lampu minyak yang disebut Kyai Wiji yang selalu dijaga oleh abdi dalem agar tidak padam.</p>
<p>Di sebelah utara Bangsal Prabayeksa berdiri Gedhong Jene yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono II. Bangunan ini menjadi tempat tinggal raja hingga pada masa Sultan Hamengku Buwono IX. Saat ini dipergunakan sebagai kantor pribadi Sultan Hamengku Buwono X. Di sisi paling utara berdiri Gedhong Purworetno, satu-satunya bangunan bertingkat yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono V. Bangunan ini pernah dipergunakan sebagai kantor pribadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX.</p>
<p>Sejumlah bangunan memiliki fungsi yang khusus pada saat berlangsung upacara penting atau penyambutan tamu kehormatan. Bangsal Manis di selatan Bangsal Kencono menjadi tempat penyelenggaraan pesta atau perjamuan kehormatan. Sepasang Bangsal Kotak di depan Bangsal Kencono menjadi tempat bagi para penari Keraton yang sedang menunggu giliran pentas. Bangsal Mandalasana di sebelah utaranya berfungsi sebagai tempat pementasan korps musik Keraton. Sementara gamelan diperdengarkan dari Gedhong Gangsa di sisi timur.</p>
<p>Di sebelah timur Gedhong Gangsa berdiri Kasatriyan yang merupakan tempat tinggal bagi para putra Sultan yang belum menikah. Gedhong Kantor Parentah Hageng adalah tempat pejabat Keraton yang berwenang menyampaikan perintah Sultan kepada semua abdidalem Keraton. Gedhong Danartapura adalah kantor bendahara Keraton. Letaknya berdampingan dengan Gedhong Patehan yang berfungsi sebagai tempat bagi abdi dalem untuk mempersiapkan minuman bagi keluarga Sultan. Sementara Gedhong Kaca adalah bangunan baru yang berfungsi sebagai museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.</p>
<p>Selain bangunan-bangunan tersebut, masih terdapat sejumlah bangunan yang masing-masing memiliki fungsi yang spesifik. Tidak semua bangungan yang ada di Keraton dapat dikunjungi khalayak umum, khususnya tempat dan bangunan yang berada di sebelah barat Bangsal Kencono. Tempat dan bangunan tersebut hanya dapat dikunjungi oleh kerabat Keraton atau para abdi dalemnya saja.</p>
<p>Regol Kemagangan adalah gerbang yang menjadi penghubung antara halaman Bangsal Kencono dengan halaman Kemagangan. Pada tembok penyekatnya terdapat ornamen simbolik berupa dua ekor naga saling berlilitan yang melukiskan candrasengkala berbunyi &#8221; Dwi Naga Rasa Tunggal &#8220;. Sementara di sebelah kiri kanan sisi selatan gerbang juga terdapat patung 2 ekor naga dalam posisi siap mempertahankan diri, yang melukiskan candrasengkala berbunyi &#8221; Dwi Naga Rasa Wani &#8220;. Makna keduanya sama, yaitu angka tahun 1682 Jawa atau 1756 Masehi, tahun berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta.</p>
<p>Pelataran Kemagangan merupakan bagian belakang dari komplek bangunan Keraton, dengan Bangsal Kemagangan sebagai bangunan utamanya. Di bangsal inilah dipergelarkannya upacara Bedhol Songsong, yaitu pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang diselenggarakan sebagai penutup setiap upacara ritual di lingkungan Keraton. Pada sudut sebelah tenggara dan barat daya halaman Kemagangan, berdiri Panti Pareden, sepasang bangunan yang diperuntukkan bagi abdi dalem Keraton yang bertugas mempersiapkan Gunungan Sekaten.</p>
<p>Regol Gadhungmlati adalah gerbang yang menghubungkan antara halaman Kemagangan dengan halaman Kemandungan Kidul. Pada tembok penyekatnya juga terdapat ornamen simbolik yang melukiskan cadrasengkala yang berbunyi &#8221; Dwi Naga Rasa Tunggal &#8221; sebagaimana dijumpai di Regol Kemagangan.</p>
<p>Bangsal Kemandungan adalah bangunan utama di halaman Kemandungan Kidul. Regol Kemandungan yang berada di sisi selatan halaman ini berhubungan langsung dengan Sitihinggil Kidul yang merupakan bagian paling selatan kompleks bangunan Keraton. Bangunan utamanya adalah Bangsal Sasana Hinggil yang menghadap ke arah Alun-alun Kidul. Bangunan ini telah dipugar pada tahun 1956 pada masa Sultan Hamengku Buwono IX. Pemugaran dilakukan dalam rangka peringatan 200 tahun berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta, sehingga kemudian disebut Sasana Hinggil Dwi Abad.</p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=21&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/bangunan-keraton-kasultanan-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benteng Baluwerti, Keraton Kasultanan Yogyakarta</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 05:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Keraton Kasultanan Yogyakarta dikelilingi oleh sebuah benteng yang didirikan sebagai sarana pertahanan serta untuk mengantisipasi serangan musuh dari luar wilayah Keraton. Benteng ini dinamai Benteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan.
Benteng Baluwerti dibangun atas prakarsa Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Hamengku Buwono I, sebagai reaksi atas berdirinya benteng Kompeni di sebelah utara Keraton. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=17&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2"> <a href="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_07.jpg" title="01_monumen_dua_setengah_abad_07.jpg"><img src="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_07.jpg" alt="01_monumen_dua_setengah_abad_07.jpg" /></a></p>
<p>Keraton Kasultanan Yogyakarta dikelilingi oleh sebuah benteng yang didirikan sebagai sarana pertahanan serta untuk mengantisipasi serangan musuh dari luar wilayah Keraton. Benteng ini dinamai Benteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan.</p>
<p>Benteng Baluwerti dibangun atas prakarsa Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Hamengku Buwono I, sebagai reaksi atas berdirinya benteng Kompeni di sebelah utara Keraton. Benteng Kompeni yang dibangun antara tahun 1765 hingga 1787 itu, kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg. Pembangunan Benteng Baluwerti sendiri ditandai dengan ornamen simbolik berupa suryasengkala yang berbunyi Paningaling Kawicakranan Salingga Bathara yang bermakna tahun 1785 Masehi. Untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan Daendels, Pada bulan November 1809, Pangeran Adipati Anom yang telah naik tahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono II, semakin menyempurnakan bangunan ini. <span id="more-17"></span></p>
<p>Benteng Baluwerti berbentuk empat persegi mengelilingi kompleks Keraton seluas lebih kurang 1 kilometer persegi. Tembok benteng setinggi 3,5 meter dan lebar antara 3-4 meter yang membentuk anjungan. Tebalnya tembok benteng memungkinkan orang atau kereta kuda melintas diatasnya. Sisa anjungan pada tembok Benteng Baluwerti masih bisa disaksikan pada sisi selatan sebelah timur.</p>
<p>Benteng Baluwerti memiliki 5 buah pintu gerbang yang disebut plengkung. Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan berada di sisi utara sebelah timur, sekaligus menjadi pintu gerbang istana putra mahkota atau Kadipaten. Plengkung ini bentuknya masih utuh.</p>
<p>Plengkung Jagasura atau Plengkung Ngasem berada di sisi utara sebelah barat. Plengkung ini pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII telah mengalami perubahan bentuk menjadi gerbang bentar.</p>
<p>Di sebelah barat dahulu berdiri Plengkung Jagabaya atau Plengkung Tamansari. Saat ini, Plengkung Jagabaya ini juga sudah berubah bentuk menjadi gapura.</p>
<p>Di sisi sebelah timur, dahulu berdiri Plengkung Madyasura yang disebut pula Plengkung Tambakbaya atau Plengkung Gondomanan, yang sudah rata dengan tanah. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Plengkung Buntet, karena pernah ditutup menjelang serangan balatentara Inggris pada tahun 1812.</p>
<p>Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gadhing yang terdapat di sisi selatan masih berdiri utuh. Fungsi khusus gerbang ini adalah sebagai jalan untuk menghantar Sultan yang wafat menuju makam para raja di Imogiri. Pada sisi kiri dan kanan pintu terdapat ragam hias kepala raksasa yang disebut Kala atau Kemamang sebagai simbol pelepasan mangkatnya sang raja.</p>
<p>Pada setiap sudut Benteng Baluwerti terdapat bangunan bastion yang berfungsi sebagai tempat mengintai musuh. Di setiap bastion terdapat lubang pengintaian dan relung-relung yang berfungsi untuk menempatkan meriam atau senjata lainnya.</p>
<p>Sebelum terjadinya gempa bumi pada bulan Mei tahun 2006, 3 dari 4 bastion ini masih berdiri utuh, yaitu yang berada di sebelah tenggara, barat daya dan barat laut. Setelah terjadinya musibah gempa bumi, bastion-bastion ini sempat mengalami kerusakan yang cukup parah. Satu lagi bastion di sebelah timur laut telah lama runtuh dan saat ini hampir tidak lagi tersisa bekasnya. Sebuah prasasti yang ada di bekas bastion itu, menunjukkan sebab kerusakannya akibat serangan balatentara Inggris pada tahun 1812. Peristiwa yang terjadi pada masa Sultan Hamengku Buwono II tersebut dikenal sebagai Geger Sepoy atau Geger Spei.</p>
<p>Hingga sekitar abad ke-18, Benteng Baluwerti dikelilingi oleh selokan yang lebar dan dalam yang disebut jagang dengan jembatan gantung di depan setiap plengkungnya. Sepanjang tepian jagang ditanam deretan Pohon Gayam. Jika datang ancaman bahaya, jembatan-jembatan ini dapat ditarik ke atas hingga menutup jalan masuk menuju bagian dalam benteng. Pada jamannya, plengkung-plengkung ditutup pada jam 8 malam dan dibuka kembali pada jam 5 pagi diiringi genderang dan terompet para prajurit di halaman Kemagangan.</p>
<p>Kawasan di dalam lingkungan benteng, biasa disebut Jeron Beteng, merupakan situs pusaka budaya utama di Kota Yogyakarta. Selain Keraton sebagai situs terpenting, di kawasan ini juga berdiri sisa bangunan Pesanggrahan Tamansari, sebuah bangunan indah dengan konsep istana diatas air. Disini juga terdapat pola tata ruang yang khas, bangunan-bangunan bersejarah, serta pola tata nama yang masih lestari sejak pertama kali adanya dua setengah abad yang lalu. Meski tidak semuanya utuh sebagaimana adanya semula, kawasan Jeron Benteng menjadi ciri paling spesifik keberadaan Kota Yogyakarta, sebagai salah satu bekas kota kerajaan yang paling utuh dan lestari di Indonesia. Inilah monumen terpenting usia dua setengah abad Kota Yogyakarta, sejak didirikan oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1756 Masehi.</p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=17&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/05/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/01_monumen_dua_setengah_abad_07.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">01_monumen_dua_setengah_abad_07.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riwayat Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/04/riwayat-prajurit-keraton-kasultanan-yogyakarta/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/04/riwayat-prajurit-keraton-kasultanan-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 05:17:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Cindermata]]></category>
		<category><![CDATA[Jogjakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/04/riwayat-prajurit-keraton-kasultanan-yogyakarta/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Yuniarso

Pada paruh akhir abad ke-18, Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki pasukan bersenjata yang cukup disegani kekuatannya. Pasukan ini terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri yang sudah dilengkapi dengan senapan api dan meriam, disamping berbagai senjata tradisional seperti pedang, tombak dan panah. Adanya pasukan ini tidak terlepas dari keberadaan para prajurit dan laskar-laskar rakyat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=9&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Agus Yuniarso</p>
<p><font size="2"><a href="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/19_riwayat_prajurit.jpg" title="19_riwayat_prajurit.jpg"><img src="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/19_riwayat_prajurit.jpg" alt="19_riwayat_prajurit.jpg" /></a></font></p>
<p><font size="2">Pada paruh akhir abad ke-18, Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki pasukan bersenjata yang cukup disegani kekuatannya. Pasukan ini terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri yang sudah dilengkapi dengan senapan api dan meriam, disamping berbagai senjata tradisional seperti pedang, tombak dan panah.</font><font size="2"> </font><font size="2">Adanya pasukan ini tidak terlepas dari keberadaan para prajurit dan laskar-laskar rakyat yang menjadi pendukung setia Pangeran Mangkubumi yang di kemudian hari bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono I. Menjelang berdirinya Kasultanan Yogyakarta, kekuatan bersenjata dibawah pimpinan Pangeran Mangkubumi, diakui kekuatannya saat menghadapi berbagai pemberontakan di Kasunanan Surakarta. Pasukan ini juga gigih melakukan perlawanan terhadap tentara Kompeni Belanda. <span id="more-9"></span></font><font size="2">Dalam sebuah pertempuran di nJenar di wilayah Bagelen misalnya. Komandan pasukan Belanda bernama Mayor Klerck berhadapan langsung dengan abdidalem Mantrijero bernama Wiradigda. Tombak Wiradigda berhasil menusuk bahu Sang Komandan, hingga pedang marsose yang dibawanya terjatuh. Mayor Klerck kemudian mengambil pistol dan mengarahkannya ke Wiradigda. Namun pada saat yang tepat, prajurit bernama Prawirarana berhasil menusukkan tombak ke leher sang musuh hingga tewas seketika. Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1751 dan memicu trauma yang mendalam di pihak Kompeni Belanda. Tombak itu, saat ini diabadikan sebagai salah satu pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta, dengan nama Kanjeng Kyai Klerek.</font><font size="2"> </font><font size="2">Pasca peristiwa Palihan Nagari yang ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada bulan Pebruari 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi 2 bagian, Surakarta dan Yogyakarta, para prajurit dan laskar rakyat pendukung setia Pangeran Mangkubumi ini, menjadi salah satu pilar penting berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta.</p>
<p>Pada masa Sultan Hamengku Buwono II, kekuatan bersenjata Keraton kembali membuktikan kekuatannya pada saat menghadapi serbuan Balatentara Kompeni Inggris yang terdiri dari orang-orang Sepoy dari India, dibawah pimpinan Kolonel Gillespie. Perisitiwa ini terjadi pada tahun 1812 dan dikenal sebagai peristiwa Geger Sepoy atau Geger Spei, yang berujung dengan jatuhnya Keraton ke tangan Kompeni Inggris disertai penangkapan dan pembuangan Sri Sultan Hamengku Buwono II ke Pulau Penang.</p>
<p>Setelah peristiwa pendudukan Keraton oleh Balatentara Kompeni Inggris, dan sejak ditandatanganinya perjanjian politik antara Thomas Stamford Raffles dan Sultan Hamengku Buwono III pada bulan Oktober 1813, kekuatan bersenjata Keraton menyurut drastis. Dibawah pengawasan Pemerintahan Kompeni Inggris, Kasultanan Yogyakarta tidak lagi dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Personil dan sistem persenjataan dibatasi sedemikian rupa, sehingga Keraton tidak mungkin lagi untuk melakukan gerakan militer. Sejak itulah fungsi kekuatan bersenjata Keraton, tidak lebih dari pengawal Sultan dan penjaga lingkungan Keraton.</p>
<p>Pasca tahun 1830, Setelah berakhirnya Perang Diponegoro, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda semakin mengurangi dan membatasi kekuatan militer Keraton. Meski memiliki hampir 1000 personel dengan berbagai jenis senjata, termasuk senjata api, namun keberadaannya sungguh tidak lebih hanya sebagai atribut pelengkap dalam kehidupan tradisi dan adat isitadat Keraton.</p>
<p>Hingga pada tahun 1942, keberadaan kesatuan bersenjata yang berusia hampir 2 abad itu, mencapai akhir riwayatnya. Saat itu, pada masa-masa awal pendudukan Balatentara Jepang, Sultan Hamengku Buwono IX membubarkan semua kesatuan bersenjata di Keraton Yogyakarta, untuk menghindari keterlibatan para prajuritnya dalam Perang Asia Timur Raya.</p>
<p>Baru pada awal tahun 70-an, Sultan Hamengku Buwono IX menghidupkan kembali keberadaan pasukan tradisional ini untuk melengkapi berbagai upacara adat dan atraksi pariwisata di Keraton Yogyakarta, khususnya dalam upacara Garebeg yang diadakan 3 kali setiap tahunnya.</p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=9&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/04/riwayat-prajurit-keraton-kasultanan-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/19_riwayat_prajurit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">19_riwayat_prajurit.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Profil Prajurit Keraton [1]</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/03/profil-prajurit-keraton-1/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/03/profil-prajurit-keraton-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 05:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Jogjakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/03/profil-prajurit-keraton-1/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Yuniarso
 
Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang disebut bregada. Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=12&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2">Oleh: Agus Yuniarso</p>
<p> <a href="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/20_profil_prajurit.jpg" title="20_profil_prajurit.jpg"><img src="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/20_profil_prajurit.jpg" alt="20_profil_prajurit.jpg" /></a></p>
<p>Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang disebut bregada. Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang bertugas untuk mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji. Sementara regu-regu dalam setiap bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Keseluruhan perwira dalam semua bregada dipimpin oleh seorang Pandega. Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton adalah seorang Manggalayudha. <span id="more-12"></span> </p>
<p>Saat ini, keberadaan bregada-bregada prajurit Keraton berada dibawah Pengageng Tepas Kaprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bregada-bregada prajurit Keraton ini selalu tampil dengan urutan dan formasi tertentu sesuai peran dan fungsi masing-masing, sebagaimana yang ditampilkan dalam setiap defile pada upacara Garebeg.</p>
<p>Setiap defile biasanya dimulai dengan tampilnya Bregada Prajurit Wirobrojo. Dahulu, Prajurit Wirobrojo selalu berada di garis terdepan dalam setiap pertempuran. Karenanya di masa kini dalam berbagai upacara adat, bregada ini selalu diposisikan di barisan paling depan. Bregada Prajurit Wirobrojo menggunakan seragam berbentuk sikepan, ikat pinggang dari kain satin dan celana panji yang semua berwarna merah, sepatu pantopel hitam dengan kaus kaki putih, serta topi berbentuk lombokan berwarna merah yang disebut Kudhup Turi. Benderanya bernama Gula Klapa, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Santri dan Kanjeng Kyai Slamet. Alat musik tambur dan seruling yang melengkapi korps musiknya, melantunkan lagu bernama Gendhing Dayungan dan Lagu Rotodadali. Senjata yang melengkapinya berupa senapan api dan tombak. Karena model seragamnya yang menyerupai lombok merah, Prajurit Wirobrojo juga disebut sebagai Prajurit Lombok Abang. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata &#8221; Brojo &#8220;.</p>
<p>Pada urutan berikutnya, tampil Bregada Prajurit Dhaheng. Pengambilan nama bregada ini berkaitan dengan asal-usul para prajuritnya yang berasal dari Sulawesi. Ciri Bregada Prajurit Dhaheng adalah baju dan celana panjang putih dengan strip merah pada bagian dada dan samping celana, topi berbentuk mancungan berwarna hitam dengan hiasan bulu ayam warna merah putih. Benderanya bernama Bahning Sari, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Jatimulyo atau Doyok. Korps musik Bregada Prajurit Dhaheng memainkan perangkat musik tambur, seruling, bende, ketipung, pui-pui dan kecer. Lagu yang didendangkan bernama Ondal-andil dan Kenobo. Senjata yang melengkapi Bregada Prajurit Dhaheng adalah senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata &#8220;Niti&#8221;.</p>
<p>Di belakang Prajurit Dhaheng, tampil Bregada Prajurit Patangpuluh. Bregada ini, bermula dari 40 orang prajurit yang pada jamannya dikenal memiliki keberanian dan ketangguhan luar biasa, yang sangat diandalkan di medan pertempuran. Prajurit Patangpuluh menggunakan seragam berbentuk sikepan dengan corak lurik khas Patangpuluh, celana pendek merah di luar celana panjang putih, rompi berwarna merah, sepatu lars hitam serta tutup kepala berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Cakragora, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Korps musik Bregada Prajurit Patangpuluh dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling dan terompet yang melagukan Mars Bulu-bulu dan Gendera. Bregada Prajurit Patangpuluh dipersenjatai dengan senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata &#8220;Himo&#8221;.</p>
<p>Selanjutnya tampil Bregada Prajurit Jogokaryo. Ciri Bregada Prajurit Jogokaryo adalah seragam berbentuk sikepan dan celana bercorak lurik khas Jogokaryo dengan rompi kuning emas, sepatu pantopel hitam dengan kaos kaki biru tua serta topi hitam bersayap. Benderanya bernama Papasan, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Bregada ini dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling, dan terompet, yang melagukan Tameng Madura dan Slagunder. Bregada Prajurit Jogokaryo dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata &#8221; Parto &#8220;.</p>
<p>Bregada Prajurit Prawirotomo yang tampil di belakang Bregada Prajurit Jogokaryo beranggotakan para prajurit yang memiliki kelebihan dibanding prajurit lainnya. Kisah keberadaan bregada ini berasal dari sekitar 1000 orang anggota Laskar Mataram yang membantu Pangeran Mangkubumi dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda. Laskar ini selalu berhasil gemilang dalam setiap pertempuran, sehingga mendapatkan nama Prawirotomo. Bregada ini menggunakan seragam berbentuk sikepan berwarna hitam serta celana pendek merah diluar celana panjang putih, sepatu lars hitam serta topi hitam berbentuk kerang. Benderanya bernama Geniroga atau Bantheng Ketaton, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling dan terompet yang mengumandangkan lagu Pandeburg dan Mars Balang. Senapan api adalah senjata utama yang melengkapi Prajurit Prawirotomo. Ciri nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata &#8221; Prawiro &#8220;.</p>
<p>Berikutnya adalah Bregada Prajurit Ketanggung. Para prajurit dalam bregada ini pada jamannya bertanggung jawab atas keamanan di lingkungan Keraton, sebagai penuntut perkara, serta berkewajiban mengawal Sultan pada setiap kunjungan keluar Keraton. Seragam Bregada Prajurit Ketanggung berbentuk sikepan dengan corak lurik khas Ketanggung serta celana pendek hitam diluar celana panjang putih, sepatu lars hitam dan topi berbentuk mancungan berwarna hitam yang dihiasi dengan bulu-bulu ayam. Benderanya bernama Cakraswandana, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Nanggolo. Korps musik bregada prajurit ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, terompet dan bende yang mengumandangkan lagu Bergola Milir atau Lintrik Emas dan Harjuno Mangsah atau Bima Kurda. Bregada Prajurit Ketanggung dipersenjatai dengan senapan api dengan bayonet terhunus serta tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata &#8221; Joyo &#8220;.</p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=12&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/03/profil-prajurit-keraton-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/20_profil_prajurit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">20_profil_prajurit.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Profil Prajurit Keraton [2]</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/01/profil-prajurit-keraton-2/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/01/profil-prajurit-keraton-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2007 05:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Jogjakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/01/profil-prajurit-keraton-2/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Yuniarso
 
Yang tampil pada urutan berikutnya adalah Bregada Prajurit Mantrijero. Pada jamannya, Bregada Prajurit Mantrijero beranggotakan menteri-menteri di Keraton yang bertugas sebagai hakim yang memutuskan perkara. Tugasnya sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Prajurit Mantrijero berseragam sikepan dan celana panji dengan corak lurik khas Mantrijero, sepatu model [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=14&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2">Oleh: Agus Yuniarso</p>
<p> <a href="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/21_profil_prajurit.jpg" title="21_profil_prajurit.jpg"><img src="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/21_profil_prajurit.jpg" alt="21_profil_prajurit.jpg" /></a></p>
<p>Yang tampil pada urutan berikutnya adalah Bregada Prajurit Mantrijero. Pada jamannya, Bregada Prajurit Mantrijero beranggotakan menteri-menteri di Keraton yang bertugas sebagai hakim yang memutuskan perkara. Tugasnya sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Prajurit Mantrijero berseragam sikepan dan celana panji dengan corak lurik khas Mantrijero, sepatu model pantopel berwarna hitam dengan kaos kaki warna putih, serta topi berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Purnamasidi, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Cokro. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, dan terompet yang mengumandangkan lagu Plangkeman, Slagunder dan Mars Stok. Bregada Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata &#8221; Joyo, Bahu, Prawiro atau Rono &#8220;. <span id="more-14"></span></p>
<p>Di belakang Bregada Prajurit Mantrijero adalah Bregada Prajurit Nyutro dengan ciri seragamnya yang sangat khas dan unik. Sebetulnya, bregada ini lebih bersifat sebagai prajurit klangenan, bukan sebagai prajurit perang. Ciri khas para prajurit yang menjadi anggota bregada ini adalah kewajiban memiliki ketrampilan menari atau mbeksa. Tugasnya adalah sebagai pengawal dalam upacara Garebeg dan sebagai penjaga keselamatan Sultan pada saat duduk pada singgasana di Sitihinggil. Bregada ini terbagi 2 kelompok dengan seragam yang berbeda. Kelompok pertama berseragam rompi dan celana panji berwarna hitam, kain kampuh biru tua dengan warna putih ditengahnya serta ikat kepala berbentuk udheng gilig berwarna hitam. Jika seragam kelompok pertama didominasi warna hitam, seragam kelompok kedua didominasi warna merah. Sejatinya prajurit ini tidak menggunakan alas kaki. Bendera kelompok pertama bernama Padma Sri Kresna dan Podang Ngisep Sari untuk kelompok kedua, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling dan terompet yang mendendangkan lagu Surengprang dan Tamtama Balik. Sementara ciri senjata yang melengkapi Bregada Prajurit Nyutra berupa senapan api dan tombak berikut perisai atau tameng. Ciri nama para prajuritnya mengambil nama-nama tokoh dalam pewayangan.</p>
<p>Berikutnya adalah Bregada Prajurit Bugis. Sebagaimana Bregada Prajurit Dhaheng, bregada ini para anggotanya berasal dari Sulawesi. Bregada ini sehari-hari bertugas sebagai pengawal Pepatih Dalem yang berada di Kepatihan. Pada jaman Belanda, bregada ini tidak termasuk dalam kewenangan Keraton. Saat ini, Bregada Prajurit Bugis difungsikan sebagai pengawal Gunungan pada setiap upacara Garebeg. Seragam yang digunakan para Prajurit Bugis berupa baju berbentuk kurung dan celana panjang hitam, topi hitam dan dipersenjatai dengan tombak panjang. Korps musik Bregada Prajurit Bugis dilengkapi dengan alat musik tambur, pui-pui, bende dan ketipung kecil. Benderanya bernama Wulandadari, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu diawali dengan kata &#8220;Rangsang&#8221;.</p>
<p>Dalam setiap upacara Garebeg, di belakang barisan yang membawa sejumlah Gunungan, tampil Bregada Prajurit Surakarsa yang bertugas mengawal Gunungan di bagian belakang. Dahulu, bregada ini bertugas sebagai pengawal Pangeran Adipati Anom, yaitu putera mahkota yang berada di nDalem Mangkubumen. Bregada Prajurit Surokarsa berseragam berbentuk sikepan dan celana berwarna putih, kain sapit urang, dilengkapi ikat kepala serupa blangkon berwarna hitam dan sepatu serta kaus kaki berwarna hitam. Benderanya bernama Pare Anom, dengan dwaja bernama Dapur Banyak Angrem. Bregada ini juga memiliki korps musik yang dilengkapi dengan perangkat musik tambur dan seruling, serta dipersenjatai dengan tombak panjang.</p>
<p>Disamping ke-10 bregada prajurit yang ada pada masa ini, dahulu Keraton Kasultanan Yogyakarta juga memiliki sejumlah kesatuan lain yang memiliki tugas dan ciri khas tertentu, diantaranya : Prajurit Sumoatmojo, Prajurit Jager, Prajurit Langenastro dan Prajurit Langenarja. Prajurit Sumoatmojo merupakan bagian dari Bregada Prajurit Nyutra yang dipersenjatai dengan sebilah pedang berikut perisai atau tameng dan bertugas sebagai pengawal pribadi yang langsung berada dibawah komando Sultan. Prajurit Jager merupakan pasukan bersenjata senapan api yang tidak mempunyai seragam khusus, hanya berbusana dinas sehari-hari sebagaimana para pegawai atau punggawa Keraton. Prajurit Langenastro adalah pasukan tambahan yang dimasukkan dalam Bregada Prajurit Mantrijero, yang pada jamannya memiliki senjata khas berupa sebilah pedang. Sedangkan Prajurit Langenarja, konon adalah kesatuan yang terdiri dari para prajurit perempuan.</p>
<p>Sebagai bagian dari sistem pertahanan, pada jaman dahulu, para prajurit ini diberikan tempat tinggal di seputar Benteng Baluwerti atau benteng luar Keraton Kasultanan, terutama di sebelah barat, selatan dan timur benteng. Di sebelah utara tidak ditempatkan bregada prajurit, dimungkinkan karena sudah adanya benteng Belanda, yang saat ini dikenal sebagai Benteng Vredeburg.</p>
<p>Tempat tinggal para prajurit itu, saat ini menjadi nama-nama kampung sesuai dengan kesatuan prajurit yang pernah menempatinya. Di sebelah barat benteng terdapat Kampung Wirobrajan, Patangpuluhan, Ketanggungan dan Bugisan. Di sebelah barat daya terdapat Kampung Daengan. Di sebelah selatan, terletak Kampung Mantrijeron, Jageran, Jogokaryan dan Prawirotaman. Sementara di timur terdapat Kampung Nyutran dan Kampung Surokarsan. Berbeda dengan yang lainnya, Prajurit Langenastro dan Prajurit Langenarja ditempatkan di dalam wilayah benteng Keraton, yang saat ini dikenal sebagai Kampung Langenastran dan Kampung Langenarjan.</p>
<p>Namun para prajurit Keraton yang ada saat ini, hampir semuanya tidak lagi tinggal di kampung-kampung itu.</p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=14&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/10/01/profil-prajurit-keraton-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khasdjogdja.files.wordpress.com/2007/10/21_profil_prajurit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">21_profil_prajurit.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gunungan Ciri Khas Upacara Garebeg</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/08/24/gunungan-ciri-khas-upacara-garebeg/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/08/24/gunungan-ciri-khas-upacara-garebeg/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2007 03:34:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Video Djogdja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/08/24/gunungan-ciri-khas-upacara-garebeg/</guid>
		<description><![CDATA[Upacara Garebeg di Kasultanan Yogyakarta diselenggarakan 3 kali dalam satu tahun pada bulan Syawal, bulan Besar dan bulan Maulud dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan hari-hari besar Islam. Upacara Garebeg Maulud yang diselenggarakan setiap tanggal 12 bulan Maulud – yang bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awal dalam penanggalan Islam, merupakan puncak perayaan Sekaten yang diselenggarakan di Keraton [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=6&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Upacara Garebeg di Kasultanan Yogyakarta diselenggarakan 3 kali dalam satu tahun pada bulan Syawal, bulan Besar dan bulan Maulud dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan hari-hari besar Islam. Upacara Garebeg Maulud yang diselenggarakan setiap tanggal 12 bulan Maulud – yang bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awal dalam penanggalan Islam, merupakan puncak perayaan Sekaten yang diselenggarakan di Keraton Kasultanan Yogyakarta untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa Sallam.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ciri khas upacara Gerebeg ditandai dengan ditampilkannya hajad dalem atau sedekah berupa sesajian berbentuk tumpeng besar yang terbuat dari aneka bahan makanan, seperti beras ketan, telur, bebuahan serta sayur-sayuran. Karena bentuknya yang menyerupai gunung, sesajian ini kemudian diberi nama Gunungan, yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan Kasultanan dan rakyat Yogyakarta.  <span id="more-6"></span> </p>
<p style="margin-bottom:0;">Sedekah Gunungan merupakan salah satu wujud sesajian selamatan yang secara khusus dibuat untuk disajikan dalam wilujengan nagari atau selamatan negara yang menjadi hajad utama dalam penyelenggaraan setiap Upacara Garebeg Maulud. Biasanya, terdapat 6 macam Gunungan, yaitu : Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Pawuhan dan Gunungan Dharat yang selalu disajikan dalam setiap Garebeg Maulud, serta Gunungan Kutug yang hanya disajikan setiap 8 tahun sekali pada Garebeg Maulud tahun Dal.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Gunungan yang selalu ditampilkan dalam Upacara Garebeg, merupakan salah satu bentuk ungkapan khas Jawa berkaitan dengan simbolisasi kesuburan, kultur agraris berikut sifat-sifat magisnya. Pada jaman dahulu, Gunungan yang dibuat dalam Garebeg Maulud bisa mencapai 30 buah, yang terdiri dari 10 Gunungan Lanang, 4 buah Gunungan Wadon, 4 buah Gunungan Pawuhan, 4 buah Gunungan Dharat, dan 8 buah Gunungan Gepak. Untuk itu, Keraton membuat sepasang bangunan yang disebut Panti Pareden di Halaman Kemagangan, yang secara khusus dipergunakan untuk membuat Gunungan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Proses pembuatan Gunungan diawali dengan Upacara Tumplak Wajik di Panti Pareden Halaman Kemagangan yang diselenggarakan 2 hari menjelang dilaksanakannya Garebeg Maulud, pada sore hari selepas Sholat Ashar. Upacara yang disertai dengan persembahan aneka sesajian ini merupakan bentuk upacara selamatan untuk menolak berbagai kemungkinan gangguan selama berlangsungnya proses pembuatan Gunungan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Pada jaman dahulu, upacara ini harus disaksikan oleh salah seorang pembesar atau Pengageng Keraton yang menjadi utusan Sultan. Para abdi dalem Keraton yang khusus bertugas dalam pembuatan Gunungan pun harus dalam keadaan suci dan mematuhi berbagai pantangan, termasuk kewajiban untuk melakukan puasa dan sejumlah ritual tertentu terlebih dahulu. Seiring dengan perkembangan jaman, sejumlah tradisi ritual tampaknya semakin disederhanakan, sebagaimana jumlah Gunungan yang tidak lagi sebanyak pada masa lalu.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Upacara Tumplak Wajik diutamakan pada pembuatan Gunungan Wadon yang menjadi simbol kesuburan dalam proses penciptaan. Untuk itu dipersembahkan aneka rupa sesajian yang berkaitan dengan kosmetika tradisional seperti cermin, sisir, bedak boreh atau lulur, sirih, serta kain mori dan semekan atau kain penutup dada. Sementara sebagai penjaga keselamatan, disajikan sebuah kain dengan motif kuno bernama Bangun Tulak, yang dipercaya memiliki kekuatan magis untuk menolak bala.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Upacara Tumplak Wajik selalu disertai dengan iringan musik kothekan atau gejogan, berupa bebunyian yang ditimbulkan dengan cara memukul atau menabuh lesung alu penumbuk padi, kenthongan, serta berbagai piranti yang terbuat dari kayu. Tetabuhan ini memiliki lagu dan irama khas tertentu seperti Gendhing Lompong Keli, Tundhung Setan dan Owal-awil, yang memiliki mak-na magis sebagai penolak bala.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Meski dalam satu tahun, Keraton menyelenggarakan tiga kali upacara Garebeg, namun Upacara Tumplak Wajik ini hanya diselenggarakan 2 kali, pada bulan Besar dan bulan Maulud saja.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Setelah Upacara Tumplak Wajik selesai, proses pembuatan Gunungan dilanjutkan selama 2 hari hingga malam menjelang dilaksanakannya Upacara Garebeg Maulud.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sejumlah tradisi ritual semakin disederhanakan dan prosesi pembuatan Gunungan barangkali tidak lagi sekhidmat jaman dahulu. Namun antusiasme dan harapan masyarakat untuk memperoleh berkah dari Gunungan tetap saja ada, termasuk pada saat proses pembuatannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=6&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2007/08/24/gunungan-ciri-khas-upacara-garebeg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol Kilometer Kota Jogja</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/15/titik-nol-kilometer-kota-jogja/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/15/titik-nol-kilometer-kota-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Nov 2006 13:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/15/titik-nol-kilometer-kota-jogja/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan:
Artikel ini merupakan transkrip sebagian naskah video dokumenter berjudul  “ Beginner’s Guide to Jogja “ (Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; total durasi:  26 menit)
Anda dapat memperoleh video dokumenternya [ disini ]
Di mana lokasi titik nol kilometer Kota Jogja ? Sebagian orang akan langsung menjawab Tugu Pal Putih, yang menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=3&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Catatan:<br />
<em>Artikel ini merupakan transkrip sebagian naskah video dokumenter berjudul  “ Beginner’s Guide to Jogja “ (Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; total durasi:  26 menit)</p>
<p>Anda dapat memperoleh video dokumenternya [ disini ]</em></p>
<p>Di mana lokasi titik nol kilometer Kota Jogja ? Sebagian orang akan langsung menjawab Tugu Pal Putih, yang menjadi simbol Kota Yogyakarta. Sebagian yang lain akan menjawab Keraton, karena inilah cikal bakal keberadaan Kota Jogja. Ada pula yang menyebut Alun-alun Utara, di antara 2 Pohon Beringin di tengahnya. Ada banyak kemungkinan jawaban. Lalu, di mana kira-kira tepatnya ? Secara keseluruhan, bisa dianggap posisi titik ini berada di lintasan dari Alun-alun Utara hingga Ngejaman di ujung selatan Malioboro. Tapi se-buah titik nol kilometer tidak mungkin berada pada kemungkinan yang terlalu lebar.<br />
Sebuah papan peringatan resmi yang terpampang di depan bekas bangunan Senisono, ternyata bisa menjadi petunjuk dimana tepatnya titik nol kilometer itu berada. Titik paling sentral itu tentu berada di sekitar perempatan jalan di depannya, bukan pada tempat dimana papan peringatan itu berdiri. Sekitar tahun 70 hingga awal 80-an, di tengah perempatan ini masih terdapat sebuah air mancur kota. Dari sinilah kemungkinan nol kilometer berada dan menjadi titik pangkal yang dipakai untuk menarik garis jarak antara Kota Yogyakarta dengan kota atau wilayah lain.<br />
Terlepas dari dimana tepatnya titik nol berada, kawasan antara Alun-alun Utara hingga Ngejaman yang berada di ujung selatan Malioboro merupakan kawasan khas yang menjadi pusaka budaya utama Kota Jogja. Meski keramaian kota telah melebar ke segala arah, kawasan ini tetap eksis dengan romantisme kultural-historis yang begitu khas. Struktur tata bangunan utama serta suasana keramaiannya tidak banyak berubah, setidaknya sejak jaman kolonial satu hingga dua abad yang lampau.<br />
Di Kawasan Titik Nol Kilometer ini berdiri sejumlah bangunan tua bersejarah yang bukan hanya menjadi saksi perjalanan sejarah kota Jogja, namun juga menjadi bagian penting dari sejarah Republik Indonesia.<br />
Kita mulai penjelajahan dari sisi paling utara. Di depan Gereja Protestan di sebelah utara Gedung Agung, berdiri sebuah jam kota atau stadsklok. Area di seputarnya yang dahulu bernama Jalan Margomulyo ini lazim disebut Nge-jaman.  Jam ini didirikan tahun 1916, sebagai persembahan masyarakat Belan-da kepada pemerintahnya untuk memperingati satu abad kembalinya Peme-rintahan Kolonial Belanda dari Pemerintahan Inggris yang sempat berkuasa di Jawa pada awal abad ke-19. Namun prasasti kecil yang menunjukkan tulisan itu kini telah dihilangkan.<br />
Bangunan yang mempunyai halaman paling luas di sepanjang ruas dari Kera-ton hingga Tugu kota Jogja adalah Istana Kepresidenan Gedung Agung. Ge-dung yang selesai dibangun pada tahun 1832 ini, dipakai sebagai tempat ting-gal para Residen dan Gubernur Belanda di Yogyakarta. Bangunan ini sempat rusak berat pada saat terjadinya gempa bumi besar pada tahun 1867. Pada jaman penjajahan Jepang menjadi kediaman resmi Koochi Zimmukyoku Tyookan, penguasa Jepang di Kota Jogja. Dari tahun 1946 hingga 1949, gedung ini menjadi tempat kediaman resmi Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama, pada saat Kota Jogja menjadi ibukota Republik Indonesia. Kini, Gedung Agung adalah salah satu Istana Presiden Republik Indonesia yang berada di luar kota Jakarta. Gedung Agung adalah bangunan yang sarat nilai sejarah, karena menjadi saksi berbagai peristiwa penting di Kota Jogja.<br />
Benteng Vredeburg berada tepat di depan Gedung Agung. Bangunan yang menjadi markas tentara pada jaman kolonial Belanda ini, sekarang berfungsi sebagai museum dengan nama Museum Benteng Vredeburg.  Benteng ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1760 atas permintaan orang-orang Belanda. Bangunannya yang sederhana kemudian disem-purnakan pada tahun 1787 dan kemudian diberi nama Benteng Rustenburg yang artinya benteng peristirahatan. Bangunan ini juga sempat rusak berat pada saat terjadinya gempa bumi besar pada tahun 1867. Setelah dilakukan pembenahan, namanya kemudian diganti menjadi Benteng Vredeburg, yang berarti benteng perdamaian. Masyarakat Jogja tempo dulu menyebut benteng ini dengan nama Loji Gedhe, sementara barak-barak tentara di belakangnya disebut Loji Cilik. Gedung Agung yang berada tepat didepannya, karena memiliki taman yang luas, disebut sebagai Loji Kebon.<br />
Di sisi timur Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dahulu berdiri sebuah toko bernama NV Toko Europe, yang menyediakan barang-barang impor untuk keperluan orang-orang Belanda. Setelah masa kemerdekaan, bekas bangunan toko ini dipergunakan oleh sejumlah kantor, diantaranya sebagai Kantor kementrian Penerangan, Kantor Persatuan Wartawan Indonesia, serta per-wakilan Kantor Berita Antara.<br />
Di sebelah timurnya, dahulu berdiri Gedung Societet de Vereeniging atau Balai pertemuan yang dikenal masyarakat Jogja dengan nama Balai Mataram. Tempat ini merupakan tempat rekreasi orang-orang Belanda.Billyard adalah salah satu permainannya, sehingga gedung ini juga disebut Kamar Bola. Pada tahun 50-an, gedung ini digunakan sebagai bioskop rakyat dengan nama Senisono. Bioskop ini kemudian pindah ke salah satu sudut Alun-alun Utara dan berganti nama menjadi Soboharsono, yang saat ini telah berubah fungsi menjadi galeri seni. Hingga akhir tahun 80-an, Senisono menjadi pusat kegiat-an seni budaya di Kota Jogja. Bekas NV Toko Europe dan Gedung Senisono telah diputar dan saat ini menjadi bagian dari Istana Kepresidenan Gedung Agung.<br />
Di sudut barat daya Benteng Vredeburg, berdiri sebuah monumen yang didi-rikan untuk mengenang peristiwa Serangan Umum yang dilancarkan para pejuang Republik Indonesia terhadap pendudukan Belanda pada pada tanggal 1 Maret 1949.<br />
Bangunan bertingkat yang masih berdiri kokoh di sisi selatan jalan ini seka-rang dipergunakan sebagai Kantor Bank BNI. Pada jaman kolonial, gedung ini dipergunakan sebagai Kantor Asuransi Nill Maattschappij dan Kantor de Javasche Bank. Lantai bawah gedung ini, pada Jaman Jepang dipergunakan sebagai Kantor Radio Hoso Kyoku, Pada awal kemerdekaan studiodigunakan sebagai Studio Siaran radio Mataram yang dikenal dengan nama MAVRO.<br />
Di sebelang timur Gedung Bank BNI, saat ini berdiri Kantor Pos Besar Yog-yakarta. Pada jaman Kolonial Belanda, fungsinya tidak jauh berbeda, yaitu sebagai kantor pos, telegraf dan telepon. Disebelah timur gedung ini berdiri Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Dahulu dipergunakan sebagai kantor de Indische Bank.<br />
Di depan bekas Gedung Senisono, saat ini terdapat sebuah monumen yang mengabadikan telapak tangan sejumlah tokoh Kota Jogja. Monumen yang diresmikan pada tahun 2003 ini dinamakan Monumen Tapak Prestasi Kota Yogyakarta. </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=3&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/15/titik-nol-kilometer-kota-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kawasan Jeron Benteng</title>
		<link>http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/14/kawasan-jeron-benteng/</link>
		<comments>http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/14/kawasan-jeron-benteng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Nov 2006 06:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Indonesia Tempo Doeloe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo doeloe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/14/kawasan-jeron-benteng/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan:
Artikel ini merupakan transkrip sebagian naskah video dokumenter berjudul  “ Beginner’s Guide to Jogja “
(Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; total durasi:  26 menit)
Anda dapat memperoleh video dokumenternya [ disini ]
Istilah Jeron Benteng biasa dipakai untuk menyebut kawasan di bagian dalam benteng yang mengelilingi Keraton Kasultanan Yogyakarta, yang menjadi situs [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=4&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Catatan:<br />
<em>Artikel ini merupakan transkrip sebagian naskah video dokumenter berjudul  “ Beginner’s Guide to Jogja “<br />
(Sutradara: Agus Yuniarso; Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006; total durasi:  26 menit)</p>
<p>Anda dapat memperoleh video dokumenternya [ disini ]</em></p>
<p>Istilah Jeron Benteng biasa dipakai untuk menyebut kawasan di bagian dalam benteng yang mengelilingi Keraton Kasultanan Yogyakarta, yang menjadi situs pusaka budaya utama di Kota Jogja. Kawasan ini memiliki pola tata ruang yang khas, bangunan-bangunan bersejarah, serta pola tata nama yang masih lestari sejak pertama kali adanya sejak satu dua abad yang lampau.<br />
Selain Keraton Kasultanan Yogyakarta yang sudah sangat termashur, apa yang menarik di kawasan Jeron Benteng ? Berbagai situs pusaka budaya dengan suasana menariknya dapat kita jumpai di kawasan Jeron Benteng. Yang paling menarik dan pantas dikunjungi pertama kali, sudah tentu adalah Pesanggrahan Tamansari.<br />
Pesanggrahan Tamansari yang juga disebut watercastle adalah sebuah istana di atas air yang mulai dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758. Pada masa jayanya, Tamansari memiliki sekitar 57 bangunan, terdiri dari danau buatan, gedung, gapura, masjid, kolam, lorong, serta kebun-kebun yang ditanami bebuahan, bunga-bunga serta rempah-rempah. Meski sebagian besar bangunan sudah kehilangan wujudnya, namun sisa-sisa keindahan Tamansari masih bisa kita saksikan hingga hari ini.<br />
Pasar Ngasem dapat kita jumpai hanya beberapa langkah dari Tamansari. Meski lebih dikenal sebagai pasar burung, Pasar Ngasem sebetulnya juga sebuah pasar yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari sebagaimana pasar tradisional pada umumnya. Para pedagang pasar tradisional yang berdampingan langsung dengan para penjual burung, ikan hias dan berbagai binatang peliharaan, menciptakan keramaian khas yang hanya ada di Pasar Ngasem. Karena itulah pasar ini tidak pernah sepi dari pengunjung, sedari pagi hingga sore hari.<br />
Alun-alun yang berada di sebelah selatan atau belakang Keraton ini, lazim disebut Alun-alun Kidul. Dahulu juga disebut dengan nama Alun-alun Pengkeran, yang artinya Alun-alun sebelah belakang. Pada jamannya, tempat ini menjadi ajang dimana para prajurit berlatih ketangkasan, ilmu beladiri atau menunggang kuda. Ada sebuah kepercayaan, jika seseorang berhasil berjalan melintasi ruang diantara 2 Pohon Beringin dengan mata tertutup, maka keinginannya akan terkabulkan. Ini membuahkan atraksi khas di Alun-alun Kidul, yang dikenal dengan istilah Masangin.<br />
Alun-alun Kidul tidak pernah sepi. Pada siang hari, sejumlah pedagang barang bekas atau klithikan berjajar menjajakan dagangannya. Setelah sore hari, alun-alun ini berubah menjadi arena olah raga. Pada saat yang sama, kebe-radaan kandhang gajah yang ada di sisi barat menjadi magnet bagi warga kota untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, dan menyulap tempat ini menjadi arena bermain bagi anak-anak. Malam hari pun suasana di Alun-alun Kidul tidak pernah sepi dengan sederetan pedagang lesehan yang menjajakan wedang ronde dan roti bakar.<br />
Di seputar Jeron Benteng juga banyak jumpai sejumlah dalem, yaitu bangun-an yang menjadi tempat tinggal para pangeran dan kerabat utama Sultan.  Dalem-dalem itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama bangsawan yang menempatinya. Salah satunya adalah Dalem Kaneman yang dibangun pada tahun 1855 pada masa pemerintahan Sultan hamengku Buwono VII. Dalem yang berada di sebelah barat Tamansari ini, saat ini ditempati oleh Gusti Kanjeng Ratu Anom Brata, putri pertama Sultan Hamengku Buwono IX. Dalem ini sering digunakan untuk kegiatan seni tari klasik yang dikelola oleh Yayasan Among Beksa.<br />
Tak seberapa jauh dari Dalem Kaneman terdapat Dalem Mangkubumen yang dibangun pada tahun 1865 oleh Sultan Hamengku Buwono VI sebagai  tempat tinggal putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom. Dalem ini sekarang dipergunakan sebagai kampus Universitas Widya Mataram. Sementara Dalem Pakuningratan yang berada di sebelah timurnya, dibangun secara bertahap antara tahun1877 hingga 1921 pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Dalem ini juga mencatat sejarah sebagai tempat kelahiran Gusti Raden Mas Daradjatoen, yang kemudian bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono IX. Tempat ini juga pernah dipergunakan sebagai Kampus Akademi Seni Drama dan Film atau ASDRAFI yang legendaris itu.<br />
Sejumlah dalem lainnya tersebar di sejumlah tempat di Kawasan Jeron Benteng. Sebagian masih berfungsi sebagai tempat tinggal para bangsawan Keraton. Sementara sebagian yang lainnya telah berpindah tangan dan berganti fungsi. Suasana dan keberadaan perkampungan di Kawasan Jeron Benteng, juga menjadi salah satu wujud pusaka budaya Kota Jogja. Nama-nama kam-pung itu biasanya diambil dari nama dan tugas para abdi dalem Keraton. Abdi dalem yang menjalankan tugas sehari-hari di lingkungan Keraton, umumnya memang tinggal di dalam lingkungan benteng, agar mereka dapat segera hadir pada saat tenaganya dibutuhkan.<br />
Abdi dalem yang bertugas untuk mempersiapkan teh atau minuman misalnya, tinggal di sebelah selatan Tamansari yang dikenal sebagai Kampung Patehan. Sementara abdi dalem silir yang bertugas merawat dan membersihkan perabotan rumah tangga seperti mebel dan lampu-lampu Keraton ditempatkan di sebelah timur Alun-alun Kidul yang dikenal sebagai Kampung Siliran. Begitu pun para pemelihara kuda atau gamel serta para penabuh tambur, yang tinggal di Kampung Gamelan dan Kampung Namburan. Disini juga terdapat kampung yang dahulu diperuntukkan bagi tempat tinggal sebagian prajurit Keraton, yaitu Kampung Langenastran dan Kampung Langenarjan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/khasdjogdja.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/khasdjogdja.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khasdjogdja.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khasdjogdja.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khasdjogdja.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khasdjogdja.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khasdjogdja.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khasdjogdja.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khasdjogdja.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khasdjogdja.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khasdjogdja.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khasdjogdja.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khasdjogdja.wordpress.com&blog=779928&post=4&subd=khasdjogdja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khasdjogdja.wordpress.com/2006/11/14/kawasan-jeron-benteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a787783f12e8d98599a8f4056b153159?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Indonesia Tempo Doeloe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>