Arsip untuk Oktober, 2007

Keraton Kasultanan Yogyakarta

Posted in Cinderamata, Heritage, Sejarah, Sudut Kota, Tempo doeloe, Tradisi on Oktober 5, 2007 by Komunitas Suara Jogja

01_monumen_dua_setengah_abad_09.jpg 

Keraton Kasultanan Yogyakarta didirikan pada tahun 1756 Masehi oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bertahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pendirian Keraton yang sekaligus menandai berdirinya Kota Yogyakarta ini, diabadikan dengan ornamen simbolik berupa candrasengkala berbunyi “Dwi Naga Rasa Tunggal”, yang bermakna angka tahun 1682 Jawa. Ornamen berupa 2 ekor naga yang saling berlilitan ini, terdapat di pintu gerbang atau Regol Kemagangan dan Regol Gadhung Mlati yang berada di dalam Keraton Kasultanan Yogyakarta. Baca selebihnya »

Bangunan Keraton Kasultanan Yogyakarta

Posted in Cinderamata, Heritage, Sejarah, Sudut Kota, Tempo doeloe, Tradisi on Oktober 5, 2007 by Komunitas Suara Jogja

01_monumen_dua_setengah_abad_04.jpg 

Pagelaran adalah halaman paling depan yang berhubungan langsung dengan Alun-alun Lor. Bagian utamanya adalah Bangsal Pagelaran, yang dahulu bernama Tratag Rambat. Nama Pagelaran baru diperkenalkan setelah pemugaran pada tahun 1921, pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Bangsal ini dipergunakan sebagai salah satu tempat pelaksanaan Upacara Garebeg yang diselenggarakan 3 kali dalam 1 tahun. Antara tahun 1946 hingga 1973, bangsal ini pernah dipergunakan sebagai tempat kuliah pada masa-masa awal berdirinya Universitas Gadjah Mada.   Baca selebihnya »

Benteng Baluwerti, Keraton Kasultanan Yogyakarta

Posted in Cinderamata, Heritage, Sejarah, Sudut Kota, Tempo doeloe on Oktober 5, 2007 by Komunitas Suara Jogja

 01_monumen_dua_setengah_abad_07.jpg

Keraton Kasultanan Yogyakarta dikelilingi oleh sebuah benteng yang didirikan sebagai sarana pertahanan serta untuk mengantisipasi serangan musuh dari luar wilayah Keraton. Benteng ini dinamai Benteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan.

Benteng Baluwerti dibangun atas prakarsa Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Hamengku Buwono I, sebagai reaksi atas berdirinya benteng Kompeni di sebelah utara Keraton. Benteng Kompeni yang dibangun antara tahun 1765 hingga 1787 itu, kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg. Pembangunan Benteng Baluwerti sendiri ditandai dengan ornamen simbolik berupa suryasengkala yang berbunyi Paningaling Kawicakranan Salingga Bathara yang bermakna tahun 1785 Masehi. Untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan Daendels, Pada bulan November 1809, Pangeran Adipati Anom yang telah naik tahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono II, semakin menyempurnakan bangunan ini. Baca selebihnya »

Riwayat Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta

Posted in Cinderamata, Heritage, Sejarah, Tempo doeloe, Tradisi, Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , on Oktober 4, 2007 by Komunitas Suara Jogja

Oleh: Agus Yuniarso

19_riwayat_prajurit.jpg

Pada paruh akhir abad ke-18, Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki pasukan bersenjata yang cukup disegani kekuatannya. Pasukan ini terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri yang sudah dilengkapi dengan senapan api dan meriam, disamping berbagai senjata tradisional seperti pedang, tombak dan panah. Adanya pasukan ini tidak terlepas dari keberadaan para prajurit dan laskar-laskar rakyat yang menjadi pendukung setia Pangeran Mangkubumi yang di kemudian hari bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono I. Menjelang berdirinya Kasultanan Yogyakarta, kekuatan bersenjata dibawah pimpinan Pangeran Mangkubumi, diakui kekuatannya saat menghadapi berbagai pemberontakan di Kasunanan Surakarta. Pasukan ini juga gigih melakukan perlawanan terhadap tentara Kompeni Belanda. Baca selebihnya »

Profil Prajurit Keraton [1]

Posted in Cinderamata, Heritage, Sejarah, Tempo doeloe, Tradisi dengan kaitan (tags) , , , , on Oktober 3, 2007 by Komunitas Suara Jogja

Oleh: Agus Yuniarso

 20_profil_prajurit.jpg

Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang disebut bregada. Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang bertugas untuk mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji. Sementara regu-regu dalam setiap bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Keseluruhan perwira dalam semua bregada dipimpin oleh seorang Pandega. Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton adalah seorang Manggalayudha. Baca selebihnya »

Profil Prajurit Keraton [2]

Posted in Cinderamata, Heritage, Sejarah, Tempo doeloe, Tradisi dengan kaitan (tags) , , , , , on Oktober 1, 2007 by Komunitas Suara Jogja

Oleh: Agus Yuniarso

 21_profil_prajurit.jpg

Yang tampil pada urutan berikutnya adalah Bregada Prajurit Mantrijero. Pada jamannya, Bregada Prajurit Mantrijero beranggotakan menteri-menteri di Keraton yang bertugas sebagai hakim yang memutuskan perkara. Tugasnya sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Prajurit Mantrijero berseragam sikepan dan celana panji dengan corak lurik khas Mantrijero, sepatu model pantopel berwarna hitam dengan kaos kaki warna putih, serta topi berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Purnamasidi, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Cokro. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, dan terompet yang mengumandangkan lagu Plangkeman, Slagunder dan Mars Stok. Bregada Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata ” Joyo, Bahu, Prawiro atau Rono “. Baca selebihnya »